Koruptor Dihukum Mati?!

Hm…
Jelas ada yang pro dan kontra ya. Yang pro, jelas, pasti banyak makmumnya. Yang kontra? Pasti banyak, banyak yang mempertanyakan maksudnya. Kalau saya sih mau jadi kaum moderat saja. Tidak memihak yang pro, pun yang kontra. Kenapa begitu? Simpel. Ya, karena saya tidak ingin menjadi pengikut yang pro, juga tidak mau jadi pengikut yang kontra.

Pagi itu, Kamis, 6 Desember 2012. Sekitar pukul 7.35 WIB.
Aktivitas rutin, pergi ke kampus seperti biasa. Waktu baru keluar dari kamar saya yang lumayan berantakan, saya dengar suara TV, sepertinya channel MetroTV yang tidak sengaja saya dengar itu sedang membahas tentang kasus korupsi. Tak ada gairah ingin menengok, tapi saya dengar, sedang ada telepon interaktif. Seorang ibu di telepon berkata, “Koruptor itu harusnya dihukum mati saja!”
Sebenarnya, kaget saya mendengar ucapan ibu tadi. Dasarnya piye, Bu? Kenapa koruptor harus dihukum mati?

Sambil berjalan mencari sarapan, saya masih terngiang-ngiang ucapan ibu tadi. Kenapa koruptor harus dihukum mati? Nikmat banget dong kalau begitu jadi koruptor? Habis dia makan uang yang bukan haknya, trus dijatuhi hukuman mati begitu saja. Kapan dia susah di dunia? Ah, saya tahu kapan! Susahnya itu pas dia berusaha korupsi, berusaha bagaimana caranya supaya hanya oknumnya saja yang tahu. Mungkin itu bagian susahnya, tapi coba dipikir lagi, yakin koruptor mau begitu saja dijatuhi hukuman mati?

Tiba-tiba muncul di otak saya sambil saya melahap makan pagi, kenapa koruptor gak disuruh shodaqoh dulu aja sih pake uang halal yang dia cari sendiri? Ya minimal harta hasil korupsi dia tuh disita dulu, tapi kalau bisa jangan masuk ke pemerintah lagi, nanti jadi siklus korupsi dong namanya?

Kemudian saya berpikir, bagaimana kalau uangnya dibagikan langsung saja ke penduduk miskin, tapi jangan pakai sensus penduduk miskin dulu, nanti jadi tidak adil pembagiannya. Kenapa? Karena kebanyakan penduduk Indonesia lebih senang dibilang miskin, jadi, langsung saja dibagikan tanpa ada woro-woro terlebih dahulu. Eh, ribet ding, hihi.

Baiklah. Hartanya disita, dimasukan ke APBN supaya bidang-bidang yang seharusnya mendapat perhatian lebih seperti pendidikan, kesehatan, penduduk miskin itu bisa lebih terbenahi. Nah, kalau harta hasil korupsinya sudah disita, dia tetap dapat hukuman lain yaitu harus ber-shodaqoh dulu, tapi shodaqoh-nya ya harus sesuai sama harta yang sudah dia korupsiIntinya dia harus bersusah payah untuk mengumpulkan uang untuk bershodaqoh. Adil gak tuh? Nantinya dia merasakan kalau cari uang tuh susah, gak sesusah korupsi dan hasil yang didapatkan tuh gak sebesar uang hasil korupsi. Paling tidak dia jadi merasakan bagaimana penduduk Indonesia yang benar-benar miskin itu bersusah payah untuk tetap bertahan hidup dan insyaAllah dirinya dan keluarganya bisa bersih kembali dengan uang shodaqoh itu.

Haha, anak kecil banget ya pikiran saya? Pikiran yang sama sekali pendek. Memangnya mau para koruptor itu disuruh ber-shodaqoh? Shodaqoh yang tanpa disuruh saja mungkin belum dilaksanakan, apalagi yang disuruh, belum tentu deh sepertinya. Memang mau para koruptor itu bersusah payah untuk shodaqoh di KEMISKINAN-nya? Mustahil sepertinya. Sebentar, miskin? Wah, sepertinya koruptor di Indonesia itu jumlahnya tidak bisa hanya dihitung pakai jari deh. Kalau semua koruptor dijadikan orang miskin, berarti penduduk miskin di Indonesia jadi bertambah buanyak, dong? Masalah lagi nih judulnya.

Hm…
Sayangnya hukum Islam sulit sekali ditegakkan di Indonesia. Di negara yang katanya Islami banget pun hukum dari Al Quran sudah sedikit demi sedikit melenceng dan tergantikan. Coba bayangkan kalau hukum Islam ditegakkan di Indonesia, koruptor mau jadi apa? Mau gak punya tangan dan kaki? Ya memang sih ada hukum tersendiri untuk pencuri kelas kakap seperti mereka, bukan hanya hukuman potong tangan potong kaki saja karena hukuman potong tangan potong kaki pun ada batasannya, tapi saya ambil simpel-nya aja, yang kira-kira semua orang paham.

Jadi, koruptor harus dihukum mati? Ah, disiksa dulu dong! Siksa moral tapi…. Koruptor kan sudah mempermalukan negara, bagaimana kalau hukumannya membuat dia merasa malu karena jabatannya dulu? Misal, dia disuruh jadi tukang semir sepatu, jadi loper koran, jadi tukang sapu jalanan, jadi apapun yang penting menghasilkan uang halal dulu. Disuruh ngamen sambil joged-joged ala boyband juga boleh. Kalau para koruptor itu tidak bisa dibina, ya memang lebih baik dibinasakan. Yang jelas, jangan dihukum mati dulu! Dihukum mati memang sangat saya anjurkan, tapi lebih baik disiksa dulu, baru dihukum mati. Suruh dia merasakan jadi penduduk yang tidak punya dulu!

Oke, terima kasih kepada Sdr. Aris Subekti dan Sdr. Ian Tri Hananto yang telah meluangkan sedikit waktu kalian buat saya ajakin ngobrol masalah beginian. Obrolan ringan dengan sedikit rasa gemas pada koruptor-koruptor itu, tapi cukup memberikan inspirasi buat saya. Thanks so much! Kapan-kapan bisa lagi nih, dengan masalah yang lebih variatif tapi…
:)

2 thoughts on “Koruptor Dihukum Mati?!”

Give your comment here :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s